After thirty years…

 

Tiga puluh tahun sudah Ayah dan Ibuk berkeluarga. Banyak hal yang kami alami dari mulai kehidupan yang sederhana sampai sekarang yang alhamdulillah berkecukupan. saya yakin banyak dinamika yang dihadapi Ayah dan Ibuk terutama sewaktu Saya dan yudha Kuliah. Punya dua anak kuliah dan nyaris tidak bisa dapat beasiswa karena anak PNS tentu cukup berat bagi Ayah dan Ibuk. Bukan ingin mendramatisir kondisi keluarga, but I have my problem. ya, sudahlah, intinya sekarang semua sudah tuntas kuliah, tinggal si bungsu yang lagi KP.

Kami tinggal di kota yang berbeda. Saya di Madiun, Yudha di Bogor, Ilham di Bandung sedangkan Ayah dan Ibuk maih di kamung halaman. kesibukan kami masing-masing tentu mengurangi intensitas pertemuan. kadang-kadang kalo Ibuk lagi pengen ngobrol gitu telponnya bisa sejaman lebih. kadang-kadang juga group call. lalu ada hal yang seolah menjadi kebiasaan bagi keluarga kami. yaitu piknik keluarga, tapi diluar bulan syawal. Bermula dari Piknik kantor dan kondangan keluarga sewaktu saya kuliah. Tahun, tahun berikutnya selalu diusahakan piknik bareng, entah pas long weekend, tahun baru, atau libur lainnya. Bahkan sejak saya dan yudha kerja, kami harus janjian kapan bisa cuti agar liburannya bisa mantap. Liburan mewah? No, jauh dari bermewah-mewah. Sebagian besar traveling kami jadwalnya dimepetkan dengan agenda lain di luar kota. Ya sekalian bisa silaturahmi ke sodara-sodara luar kota sekaligus nginep gratis. hahaha. Misal nih pas ada nikahan di Surabaya, Wonosobo, Bekasi, kita berangkat dua-tiga hari sebelumnya buat liburan dulu, habis itu kondangan deh. bawa mobil sendiri, lengkap dengan bekal makan dan tikar. Trust me, its fun.

Ada banyak pelajaran berharga dari obrolan-obrolan yang terbentuk saat piknik. Dan setelah waktu berlalu sekian lama, Niat piknik ini muncul lagi. Beberapa hari lalu adik saya melangkah lebih dulu. Lamaran, belom nikah, saya masih punya kesempatan buat nyalip sebelum ijab. hahaha. keep positif. Dan sekalian mumpung agak selo ngepas i anak-anak pada cuti ini, Ayah, Ibuk ngajak silaturahmi ke Jember, Banyuwangi dan Malang. Ndilalah kemarin pas ada sodara di jember yang sedo nggak bisa takziyah. Hari minggu lamaran, langsung seninnya berangkat ke jember.  Selasa ke banyuwangi, Rabu ke Malang langsung pulang. Kamis istirahat, Jumat  lanjut acara masing-masing. hahaha.

Selama perjalanan seperti biasa selalu hanya ada canda tawa. sayang si bungsu kali ini nggak ikut. ada panggilan dari dosennya soal KP. tapi nggak papa, calon mantu udah ikut kali ini, dan mobil udah penuh. Matoh. dalam perjalanan ini sebenernya saya banyak merenungnya ketimbang celelekan. Adek saya udah lamaran, berntar lagi nikah. Aku kapan? faaaakkkk. Artinya Ayah dan Ibuk sudah Sepuh, dan rasanya saya belum rela melihat beliau sepuh. Rasanya pie gitu. Bulan depan Ayah pensiun dan praktis Ayah sama Ibuk akan dirumah berdua, dari kemaren mikir bikinin kegiatan apa buat Ayah sama Ibuk semacam usaha gitu tapi masih belum tau. As wes ah, malah baper iki..

intinya, sayangi keluarga kalian, hargailah waktu bersama keluarga.

.

.

.

Betapa beruntungnya kami yang masih memiliki orang tua yang lengkap sampai hari ini. Betapa malunya kami apabila tak bisa berbakti lebih baik dari mereka yang orang tuanya telah berpulang. Ayah, Buk, Ijinkan anak-anakmu ini berbakti lebih lama lagi.

syem,,, nangis iki aku… hahaha..

 

I love to catch every moment them candidly

 

aing mah cuman juru potret… hix

 

si Bungsu kagak ikut.. hahahaha

.

.

.

Sehat Selalu ya Yah, Buk….

Jogja yang belum saya singgahi

Kalau mencari postingan berbau jogja dari semua tulisan saya pastilah akan ketemu puluhan tulisan. Jogja dan bebagai sudutnya sudah menyatu dalam tubuh saya. ibaratnya kalau mo piknik di jogja sambil merem pun bisa. kebetulan kali ini ada sodara yang jauh-jauh dari medan yag minta diantar bertamasya keliling kota selama 2 hari (nggak full) di jogja. kesempatan nih, selain ke lokasi mainstream, saya bisa geret dia ke lokasi-lokasi yang belum pernah saya kunjungi. karena ini wisata kilat, sehari kita harus menamatkan 5 destinasi. hahaha. di hari pertama ada Borobudur, Candi ijo, Prambanan, Nglanggeran, Malioboro. Hari kedua kami ke Mangunan, Hutan pinus, Imogiri, Museum de Mata, Kraton dan Monjali. Gunung kidul dan Kulonprogo terpaksa dikeluarkan dari daftar soalnya kejauhan men, dan butuh seharian sendiri ke sana.

 

1. Kebun Buah Mangunan

Baiklah, saya sangat telat datang ke sini, tempat yang populer buat lihat sunrise ini tidak jauh dari kota jogja. cuma satu jam dengan jalan yang agak nanjak. Berbatasan persis dengan sungai Oyo, kawasan ini punya pemandangan pegunungan. padahal cuman 200an mdpl. Sebenarnya dulu sekali pernah ke kawasan ini, dua kali. yang pertama pas survey makrab 2007, yang kedua sama si Andri pas mau nyari tempat buat apa gitu lupa tahun  2011. pas itu mah nggak ada ramenya di sini, standar orang pacaran. Sekarang, wuss, subuh aja udah rame orang. saya sebenernya nggak banyak berharap soalnya berangkat aja udah jam 6. ehh,, tapi ternyata saya  masih punya kesempatan buat menikmati awan awan yang dingin di atas sungai Oyo. oh iya kalau pengen spot lain yang menarik, dari pintu keluar langsung aja belok kanan, kalian pasti bakalan ketemu sama jurang jero, belik dhuwur dan beragam selfie spot diatas awan

masih ada awannya meski kesiangan

berasa di pegunungan kan?

 

2. Hutan Pinus Mangunan

Lanjut ke lokasi terdekat, kami langsung menuju Hutan Pinus Mangunan. Hutan Pinus Mangunan, begitulah bagian dari hutan di kawasan RPH (Resort Pengelolaan Hutan) Mangunan yang ditumbuhi jenis Pinus merkusii ini disebut. Lokasinya yang bisa ditempuh searah dengan situs makam Raja-Raja Imogiri membuat banyak orang salah menyebutnya menjadi Hutan Pinus Imogiri, terutama wisatawan yang berasal dari luar Jogja. Padahal secara administratif hutan pinus ini tidak termasuk kawasan Imogiri.

Sebelum menjadi salah satu destinasi wisata, hutan di kawasan Mangunan adalah sebuah tanah tandus yang kemudian direboisasi. Tak hanya pinus, jenis pohon lain seperti mahoni, akasia, kemiri dan kayu putih juga ditanam di lahan yang luasnya kurang lebih 500 Ha ini. Kini kawasan Mangunan, terutama bagian yang ditanami pohon pinus tak hanya berfungsi sebagai hutan lindung namun juga dikelola sebagai salah satu tujuan wisata. Berbagai fasilitas wisata seperti gardu pandang, panggung pertunjukan yang menyatu dengan alam, kamar mandi umum, mushola dan warung-warung sederhana pun telah di bangun di kawasan wisata ini.

Di dekat Hutan Pinus Kekinian ini terdapat sumber mata air Bengkung yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai lokasi pertapaan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Untuk menemukan situs mata air yang kemudian dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1925 hingga 1930 ini ada beberapa jalan yang bisa ditempuh, bisa dengan trekking dari tempat parkir menembus hutan yang rapat mengikuti jalur outbond Watu Abang atau jalan melingkar yang lebih jauh namun bisa ditempuh dengan sepeda atau sepeda motor. FYI, Hutan Alam Bengkung ini masih terjaga keasliannya lho. anak-anak kehutanan kalo habis Forestcamp pasti mampir ke sini.

 

3. Pembuatan Batik Tradisional

Meski saya suka belanja batik dan bikin desain batik, saya ternyata belum pernah melihat proses pembikinannya. nah setelah mampir ke sini barulah saya tahu bahwa JONJOT (residu pembuata gondorukem) jadi bahan dasar buat lilin batik ini. well menyenangkan juga melihat patern batik tulis dan cap yang bertransformasi dari kain polos sampai jadi batik. kalau yang mau kursus batik, di sini ada kursus batik untuk pemula, oke juga nih buat acara liburan keluarga atau kantor.

 

 

4. Monjali

Satu lagi tempat yang belum pernah saya kunjungi selama 5 tahun di jogja adalah Monumen jogja kembali alias MONJALI. Padahaaaallll monumen ini letaknya gak sampai 500m dari kosan. Terlalu. Hahaha. Monumen ini didirikanpada tanggal 29 Juni 1985 dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan oleh kolonel Soegiarto, selaku walikotamadya Yogyakarta pada tahun 1983. Nama Yogya Kembali dipilih dengan maksud sebagai tetenger (peringatan) dari peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari ibukota RI Yogyakarta pada waktu itu, tanggal 29 Juni 1949.

Museum Monumen dengan bentuk kerucut ini terdiri dari 3 lantai dan dilengkapi dengan ruang perpustakaan serta ruang serbaguna. Pada rana pintu masuk dituliskan sejumlah 422 nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III (RIS) antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Dalam 4 ruang museum di lantai 1 terdapat benda-benda koleksi: realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum dalam suasana perang kemerdekaan 1945-1949. dan sejak tahu 2010 berdiri Taman Pelangi di pelataran monumen sebagai pengembangan wahana dan dayatarik lain di kawasan ini. taman pelangi ini berupa taman lampion yang buka dari jam 5 sore sampai jam 10 malam. Dan sayangnya kunjungan saya kesini cuma sampai jam 3, habis itu mudik bos.. kamfredos lah. hahaha.

Kabar Sedih dari Mojok(dot)co yang perlu disambut gembira…

Belum lama ini saya masih mengikuti tausiyah al mojokiyah wal internet disela-sela jam kerja dan waktu boker. eh lha kok mak jegagik saya nemu tulisannya mbak rianni djangkaru yang saya kagumi sejak masih SMA dulu, bilang kalau mojok mau kukut.

Ealah, langganan bacaan saya selama bertahun-tahun Ngapusi mojok wae baru 4 tahun mendadak musnah. siapa yang tak sedh, sebagai jamaah al mojokiyah sudah barang tentu saya berada pada titik galau. saya dihadapkan pada dunia yang tak lagi asyik, dunia yang kembali monoton seperti tahun 2012 lalu. tapi ya sudahlah. karepe sing gawe mojok. toh aku ora mbayari kyai mojok tausiyah wae. saya mencoba menghibur diri dengan mencari hal-hal membahagiakan dari fakta bahwa mojok akan tutup segera.

sekali lagi SEGERA.. COMING SOON BABY….

berikut kebahagiaan saya ketika mojok benar-benar kukut.

  1. Saya lebih Fokes kerja. Disadari atau tidak, ikut pengajian mojokdotco lebih menyenangkan ketimbang menyelesaikan Naskah Perencanaan Hutan, atau hasil risalah hutan. Saya betah berlama-lama mantengin layar laptop buat menyimak guyonan seriyes Pakdhe Bos Puthut EA, Om iqbal Aji, Gus Mul, Mas Bana, Pakdhe Edy, Mbak kalis, Mbah Nyuts juga yang lainnya yang sudah pindah ke laman lain. Lha kalo ngerjakan gawean sendiri paling-paling lima belas menit sudah nyerah.
  2. Dengan kukutnya Mojok, semoga saya jadi bisa ngeblog dengan bebas. Sebagai pemuja mojokdotco sudah barang tentu saya kemakan pemikiran kalo saya harus bisa menyaingi mojokdotco, mbuh postingannya, bahasanya, temanya. hasilnya? bubrah. Blog saya malah makin suwung karena stress mikir gimana nyaingin mojok. Lha cen dhengkulku amoh, milih rival kok mojokdotco. Jangankan rival, mau berkiblat saja bisa dipastikan saya bakalan klenger. Nulis satu postingan saja kudu mbalelo mencari literasinya, lha kok berkiblat ke mojok yang isinya uabot. mau bikin satir? wes, mending mikir calon bojo ae lek. Gak perlu melu-melu nyiyirin pemerintahan atau isu apapun. cukup mojok wae. Saya sadar waktuku tak kan cukup untuk mengejar ketertinggalan nak, mending baca mojok saja. dan sekarang mojok bubar.. dyaaar po ra kon.

  3. Hidup lebih berwarnya. saya rasa mojokdotco sudah menjadi stereotipe yang memunculkan gaya dalam sekte mojokisme. sebut saja kaum maiyahan yang dulunya minor sekaran begitu masif bahkan sak menungso menungso mendem pun punya bisa terseret arus tersebut. bahaya? ora blas pak. kini sebelum sekte mojokiyah meluas, sebaiknya memang kukut saja. nanti jadi nggak asik lagi kalo kebanyakan orang-oran yang tipenya sama. Kandani lha wong orang yang hidupnya damai-damai saja mstilah tetiba berinat merusak perdamaian itu dengan berbuat ndagel dan seru.

  4. Tidak ada lagi curhatan yang diselewengkan menjadi gojekan. rumangsamu lucu? menelanjangi luka-luka seseorang lalu menjadikannya sebuah bahan candaan. lucu sih sebenernya. Mereka curhat itu bukan untuk ditertawakan. mereka ingin masukan yang menghibur. bukan ditelanjangi dengan sayatan candaan yang menyakitkan. Tapi toh mojok tak punya salah dalam hal ini, wong jelas jelas bose ngomong kalua semua curhatan akan diberi jalan keluar secara amazing, bagai mengeluarkan biji kenari pakai gigi bajing. Salahmu dewe curhat ning Mojok. ini bukan tempat konsultasi bro, ini dagelan serius soal hidup. SOEH pokokya.

    Setelah tak pikir-pikir lagi, kok ya cuma itu kesenangan saya ketika mojok tutup. paling paling nambah satu, nggak terlalu mikir kalo ada tulisan konco-konco yang cementhel di mojok. ndak perlu jadi minder lagi. sekarang mojok tutup. Dan dengan sangat sadar tulisan ini mungkin tidak mampu menembus tangan besi sang redaktur, jadi saya milih ngirim ini diblog wae. lagian bentar lagi juga mojok kukut, njuk percuma juga nek dipasang hahaha..

P.S.

kalau boleh jujur, saya akan sangat merindukan mojok, saya rindu sebuah bacaan yang menyenangkan namun berisi yang bisa saya baca saat nongkrong di wc. saya rindu bacaan bacaan yang membuka wawasan sakpenak dhengkule dan saya akan sangat rindu dengan metafora  yang mungkin tak saya jumpai di web manapun.

godbye mojok..

semoga suatu saat ketika carut marut dunia artikel, opini, kelakar tak lagi seru, kamu akan muncul dan bilang piye, penak jamanku to??